ANALISIS NEM SEKOLAH LANJUT TINGKAT PERTAMA (SLTP) MASUK SEKOLAH LANJUT TINGKAT ATAS (SLTA) KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN AJARAN 2009-2010

Tulisan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk menggambarkan bagaimana perkembangan sistem pendidikan ke depan agar kualitas pendidikan dapatsemakin lebih baik yang sangat diharapkan diberbagai bidang pembangunan. Dari uji statistik Chi kuadrat diperoleh X2hitung = 6.85 > X2tabel dengan derajat bebas 8 pada a = 0,01 adalah 1,34 . maupun pada a = 0,05 adalah 2,73. ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara jumlah NEM SLTP dan prestasi belajar siswa SI.TA pada Ulangan kenaikan kelas khsusnya pada mata pelajaran matematika. Selanjutnya dengan membandingkan nilai C = 0,7483 dcngan nilai Cmaks = 0,7071 didapat 0,7483 – 0,7071 = 0,0412 nampak bahwa derajat asosiasi antara nialai nem SLTP dciigan Nilai mumi ulangan kenaikan kelas X adalah 0,0412 sangat dekat, ini menunjukkan hubungan yang sangal kuat. Dari data hasil analisis tersebut penulis menyarankan agar pemerintah dan para pencinta pendidikan khususnya para pemikir pendidikan harus mampu menyelenggarakan sistem pendidikan yang tepat agar SDM di Indonesia dapai bersaing secara global diberbagai bidang pembangunan sekarang ini dan yang akan datang.

PENGARUH PENERAPAN E-LEARNING QUIPPER SCHOOL TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA DI SMA NEGERI 109 JAKARTA

This research aimed to find the effect of implementing quipper school e-learning to student’s independent learning and to find the student’s perception about quipper school was used in learning process at senior high school . the hypothesis in this research is “there is positive effect between the implementing of quipper school in student’s independent learning”. This research used the purposive sampling consist of 36 students. This research used pre-experimental method type one group pretest-posttest design. The questionnaire instrument which consist of 36 items was used in this research. To find out effect between implementing quipper school and student’s independent learning it used a t-test, then it showed tvalue=9,77 eith a=5%. Which means. H0 is rejected or there is effect of implemnting quipper school e-learning to student’s independent learning. The research showed the effect size was 1,70 (high). Based on the normalized gain, that there was an increase in student’s independent learning, about 0,22 student’s perception about using quipper school are quipper school is a tool to develop material that can help student’s critical thinking very useful on practising it helps in manitain learning time efficiently it helps the students doing the task everywhere and anytime

MODEL KLUSTER TEKNOLOGI UNTUK USAHA KECIL MENENGAH

This paper explains basic concepts of technology cluster in developing Small-Medium Entrcprises (SMEs). The role of technology in achieving firm’s competitive advantage Is firstly discussed. Problems in accessing technology for SMEs are also briefly described. A mode! of technology cluster for SMEs that consist of three dimensions (level, approach, sub-system) is then outlined and specifically developed by sub-system.

EKSISTENSI BUDAYA BETAWI DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI JAKARTA

Jakarta sebagai pusat pemerintahan mempunyai penduduk asli dengan ciri utamanya mempergunakan bahasa Betawi sebagai bahasa ibu, tinggal dan berkembang di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Pada tahun 1619 nama “Betawi” disebut berasal dari kata “Batavia”. Nama yang diberikan oleh Belanda pada zaman penjajahan dahulu (Pemerintah Daerah DKI Jakarta, 1995-2012). Namun sebetulnya penamaan Betawi sudah muncul jauh sebelumnya sebelum datangnya Jendra Hindia Belanda, Jan Pieterszon Coen datang dan berambisi untuk membangun kota yang disebut Batavia (Saidi, 2004, hal, vii). Menurut Satradarma dalam saidi (2004, hal, 14) bahwa orang Betawi sejak 1865 telah menamakan dirinya sebagai orang Betawi, walau sebelum tahun 1865 disebut ‘orang selam’ yang merupakan sebutan khusus dari pendatang (Cina,Arab,Eropa) karena mayoritas beragama Islam. Istilah Betawi baru populer pada tahun 1970, sebelumnya penduduk asli Jakarta menyebutkan diri sebagai orang Melayu.

MENJAGA INTEGRASI NASIONAL DARI ANCAMAN DALAM DAN LUAR NEGERI MELALUI PENDIDIKAN SEJARAH

Globalisasi dan era ekonomi bebas seperti Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mengancam integrasi nasional. Belum lagi otonomi daerah yang menunjukan lokalitas masing-masing daerah sehingga potensi terjadinya integrasi nasional semakin besar. Padahal inti dari integrasi nasional lebih menekankan pada perstuan persepsi dan perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakatsehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Pendidikan sejarah dapat menjadi faktor pendorong terjadinya integrasi nasional. Rasa senasib sepenanggungan ditunjukkan dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi saksi sejarah bagaimana keinginan untuk bersatu muncul di kalangan bangsa Indonesia. Peristiwa sejarah lain seperti Proklamasi Kemerdekaan, dibuatnya Bendera Merah Putih, diciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan bahsa kesatuan bahasa Indonesia menjadi sebuah kesepakatan nasional menjadi salah satu bukti pentingnya pendidikan sejarah dalam menjaga integrasi bangsa Indonesia. Tulisan ini merupakan kajian pustaka mengenai bagaimana pendidikan Sejarah dapat menjaga integrasi nasional dari ancaman dalam dan luar negeri, serta model pembelajaran sejarah yang efektif bagi siswa untuk memahami jati diri sebagai bangsa Indonesia. Diharapkan tulisan ini dapat menunjukkan kepada pembaca, bahwa semboyan “jangan sekali-kali melupakan sejarah” masih releva dengan kehidupan pada saat ini dan dapat menjaga integrasi bangsa dari ancaman dalam dan luar negeri.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN TRANSMIGRAN UNTUK MENGGARAP LAHAN USAHA: KAJIAN KASUS DI SATUAN KAWASAN PEMUKIMAN TRANSMIGRASI TULANG BAWANG, LAMPUNG

Although the participating farmers of transmigration program are provided with enough land to fulfill their basic needs, their ability to cultivate the land is very limited. From a case study of Tulang Bawang Transmigration Area, Lampung, it is indicated that the farmer’s ability to cultivate their land is influenced not only by the technical aspects itself but also by the socio economic aspects such as their previous occupations levels of education and capital ownership.

AUNTHENTIC ASSESSMENT IN THE LEARNING OF SOCIAL STUDIES

The purpose of this research is to know how authentic assessment given in social studies. Learning social studies in junior high school includes materials of History, Geography, Economics and Sociology. In monodisciplinary, each of these materials have characteristics and a different way in the planning, implementation and evaluation. But in term of interdisciplinary, evaluation was made in order to provide a throught assessment. In an authentic assessment of students are required to show meaningful tasks then assessed directly in the classroom. Nevertheless, authentic assessment is not only implement in the classroom, but also can assess the tasks performed outside the classroom with project-based learning. The method used in this research is a survey conducted for teachers of social studies in Jakarta. The results showed that an authentic assessment can help students to display meaningful tasks then assessed directly in the classroom. However, authentic assessment is not only implemented in the classroom, but also can assess the tasks performed outside the classroom with project-based learning.

KERUSAKAN TANAH DAN BEBERAPA FAKTOR PENYEBABNYA: STUDI KASUS DI KECAMATAN CISARUA KABUPATEN BOGOR

Laju perkembangan penduduk yang sangat pesat merupakan salah satu penyebab utama timbulnya tekanan yang sangat berat terhadap kualitas tanah. Pengamatan terhadap kerusakan tanah di kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, yang merupakan salah satu daerah yang termasuk Kawasan Puncak, dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan tanah dan factor-faktor penyebabnya, yang sepenuhnya didasarkan pada analisis “overlay” dari peta-peta yang diperoleh dari Direktorat Tata Guna Tanah Departemen Dalam Negeri. Kemudian juga disajikan alternative program untuk menanggulanginya

EXAMINING OF PRODUCTION, CONSUMPTION, IMPORTS AND THE EFFECT ON SUGAR SELF-SUFFICIENCY

One of the problems faced by Indonesia, which lies in the industrial sector of sugar, that sugar production in the country that cannot meet consumption needs, so do imports from several countries. There is a huge opportunity to improve the national sugar production. Increased production of sugar to meet domestic needs have been programmed by the government through sugar self-sufficiency program. At first, self-sufficiency is to be achieved in 2014, but a number of considerations, postponed until 2019. Self-sufficiency has several benefits, among others; (a) increase the income of sugar cane farmers; (b) to be independent from the State (importers); (c) to create new jobs, and; (d) save on the use of foreign exchange. Although self-sufficiency has strategic benefits, but there are some constraints, namely; (a) sugar factories generally are old; (b) the total area of sugarcane plants dwindling; (c) the price of sugar on the world market is relatively cheap, so employers tend to be happy import, and; (d) it is difficult to get adequate land as possible to increase the production of sugar cane, mainly in Java.
The data were analyzed using multiple linear regressions, that the sugar production is positively correlated with the total area of the sugar cane crop, but negatively correlated with the volume of imports. This finding reinforces the self-sufficient, that the national sugar production can be increased through increased production and reduced imports of sugar cane. Another fact, domestic sugar consumption was positively correlated with domestic production and imports. This means that imports of sugar can be omitted if the national production has been able to self-sufficiency. For the success of self-sufficiency program is deemed necessary to improve the governance of the national sugar. In this case there is a choice, continuing the pattern of the core estate and smallholder (PIR), which is already applied, or implementing contract farming or cooperative farming.

STRATEGI PENGEMBANGAN KOTA BARU DAN KECIL

Pentingnya pengembangan kota-kota menengah dan kecil di negara berkembang ditegaskan oleh Rondineli, “agar menjadi pusat pelayan sosial dan umum, perdagangan, pasar regional, pengolahan hasil pertanian, pusat industri kecil, dukungan transportasi, dan komunikasi antara pedesaan dan perkotaan”. Byung Nak Sung mengusulkan “pengembangan kota menengah dan kecil di Korea untuk mendukung pengembangan kota besar dan metropolitan”