Pola pendidikan di Indonesia terbentuk melalui sejarah yang panjang. Dimulai pada
jaman Hindu-Buddha sampai penjajahan Jepang, pola pendidikan yang terbentuk
hampir sama yaitu guru dianggap sebagai orang yang sangat dimuliakan karena peran
guru diambil oleh kaum Brahmana (jaman Hindu-Buddha), ustad/ajengan (jaman
perkembangan agama Islam), pemuka agama Katolik Roma (jaman penjajahan
Portugis), tokoh agama Protestan (jaman penjajahan Belanda) dan tokoh pribumi
yang dianggap berpengaruh (jaman penjajahan Jepang).
Namun pola tersebut sudah tidak dapat diterapkan karena guru bukan satu-satunya
sumber informasi pada saat peserta didik belajar. Belajar juga bukan lagi hanya
belajar di dalam kelas tapi juga diluar kelas dengan mengembangkan aspek kognitif,
afektif dan psikomotor serta soft skills.
Tujuan pembuatan tulisan ini adalah untuk merevitalisasikan kembali pembelajaran
sejarah diperlukan agar peserta didik tidak hanya hapal tapi justru memahami esensi
belajar sejarah itu sendiri melalui pendidikan yang holistik (menyeluruh). Peserta
didik harus tahu bahwa hidup mereka sekarang ini karena jasa para pahlawan bangsa
yang sudah memperjuangkan kemerdekaan. Tentu saja bukan hal yang mudah
ditengah budaya yang berkembang sekarang ini.
Pendidikan holistik merupakan sebuah perjalanan pendidikan untuk aktualisasi diri
dan realisasi diri melalui hubungan dan keterkaitan antara individu, kelompok dan
dunia sehingga terintegrasi satu sama lain. Pendidikan formal hanyalah titik awal dari
proses seumur hidup.
Tag: muhammadiyah
KEMISKINAN PEREMPUAN DAN RENTENIR DI PERKOTAAN SERTA PENANGGULANGANNYA
Para peneliti kemiskinan telah memiliki konsensus bahwa permasalahan kemiskinan
adalah permasalahan yang multidimensional. Penjelasan mengenai kemiskinan pada
Copenhagen Programme of Action of the World Summit for Social Development tahun 1995
yang menyebutkan bahwa kemiskinan mempunyai berbagai wujud, termasuk kurangnya
pendapatan dan sumber daya produktif yang memadai untuk menjamin kelangsungan hidup;
kelaparan, dan kekurangan gizi; kesehatan yang buruk; keterbatasan akses pendidikan dan
pelayanan dasar lainnya; peningkatan morbiditas dan peningkaan kematian akibat penyakit;
tunawisma dan perumahan yang tidak memadai; lingkungan yang tidak aman; dan
diskriminasi sosial dan pengucilan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menambahkan
kemiskinan dicirikan oleh kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan dan dalam
kehidupan sipil, sosial, dan budaya (Barrientos, 2010 dalam (Badan Pendidikan dan
Penelitian Kesejahteraan Sosial, 2012, hal. 1)).
IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN PROFESIONALISME BAGI GURU BERSERTIFIKAT PENDIDIK
Kompetensi guru profesional meliputi kemampuan guru mengenal peserta didik yang
dilayaninya secara mendalam, menguasai bidang studi secara keilmuan dan kependidikan
dalam hal mengemas materi pembelajaran, kemampuan menyelenggarakan pembelajaran
yang mendidik mulai dari perancangan sampai pemanfaatan hasil penilaian terhadap proses
dan hasil pembelajaran serta pengembangan profesionalitas yang berkelanjutan. Namun
beberapa hasil penelitian memperlihatkan motivasi guru untuk segera ikut sertifikasi
bukanlah untuk meningkatkan profesionalime atau kompetensi mereka tetapi terkesan
semata-mata untuk mendapatkan tambahan penghasilan melalui tunjangan profesi. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi guru yang
bersertifikat pendidik, pengembangan profesionalisme guru di sekolah serta implementasi
Pengembangan Profesionalisme Guru. Metode yang digunakan adalah studi kasus sehingga
memperoleh deskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah permasalahan. Hasil temuan
berdasarkan penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa guru belum optimal dalam
mengembangkan profesionalismenya, sehingga diperlukan pendekatan model kebijakan yang
komprehensip mulai tingkat sekolah sampai ke kementrian sehingga dengan beban kerja yang
ada masih tetap mampu mengembangkan profesionalismenya.
ROLE OF FAMILY ENVIRONMENT IN CHARACTER DEVELOPMENT
Family environment as the environment is known first and foremost a child has a decisive role in helping
the development of his personality. One effort is the essential meaning is to invite the children to enable
themselves with moral values to have and develop the basics of character development. These efforts
demonstrate the need for the position and responsibilities of parents. Help parents in laying the
foundations and development in the character formation of children is to create conditions that encourage
children to have the basics of good character and in its development involves two subjects namely
parents as educators and children as the educated. This paper comprehensively want to see how the
character formation of children in the family environment seen from the pattern adopted by foster parents,
with the approach of descriptive analytical method. Thus the character that develops in children can be
seen from the pattern adopted by foster parents in the home.
NASIONALISME PEMUDA DALAM PERUBAHAN SOSIAL
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melihat bagaimana perubahan nasionalisme pemuda dalam perubahan sosial. Nasionalisme terancam retak oleh krisis-krisis yang menyeruak: krisis moneter, krisis moral, krisis sosial, krisis politik, krisis kebangsaan dan sebagainya. Krisis yang berkepanjangan tersebut antara lain disebabkan oleh berbagai masalah sosial kemasyarakatan seperti pertentangan politik, etnik, sosial budaya dan merebaknya sikap, perilaku permisif terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme yang berlangsung lama. Metode penulisan yang dipergunakan adalah metode deskriptif analitis.
Perubahan cara pandang pemuda tentang nasionalisme terjadi karena adanya perubahan-perubahan dalam kehidupan terutama dalam kehidupan sosial. Perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun sedemikian cepat sehingga mempengaruhi pola pikir dan sikap pada masyarakat yang mengalami perubahan tersebut. Dalam pengertian yang sangat luas perubahan sosial didefinisikan sebagai perubahan penting dari struktur sosial dan yang dimaksud dengan struktur sosial adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial.
BAHASA INDONESIA DAN NASIONALISME TIDAK PERNAH MATI: PERSPEKTIF EMPIRIS-HISTORIS
Banyak kajian dan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa nasionalisme di
Indonesia telah pudar seiring dengan perubahan jaman yang memandang
nasionalisme adalah peristiwa masa lalu yang sudah tidak relevan dengan kondisi
bangsa saat ini. Hal tersebut sebenarnya kurang tepat karena nasionalisme tidak
pernah padam pada satu bangsa termasuk bangsa Indonesia. Ketika pemilihan
Presiden 2014 di Indonesia, para Capres berlomba untuk memunculkan tokoh masa
lalu seperti Soekarno yang terkenal dengan semangat nasionalismenya. Perjuangan
Soekarno pada masa mudanya untuk keluar masuk tahanan hanya untuk
mempertahankan negara Indonesia menjadi salah satu contoh kecil perjuangannya.
Peristiwa Sumpah Pemuda yang menyatakan bertanah air, berbangsa dan berbahasa
satu yaitu bahasa Indonesia mulai dimunculkan kembali. Nasionalisme jangan
dilihat dalam pemahaman yang sempit. Mestinya menjadi Elan Vital suatu bangsa
sebagai daya pemersatu bagi kemajuan peradaban yang mengarah kepada nation
state. Perjuangan bangsa Indonesia dalama arti fisik melawan penjajah memang
sudah berakhir tapi perjuangan itu sudah berubah bentuk strategi karena berbeda
situasi dan kondisi. Hal ini terkait dengan kondisi bangsa Indonesia yang sangat
beragam dalam berbagai corak kehidupan. Perbedaan justru menjadi berkah dan
pelangi yang indah bagi Bangsa Indonesia. Melalui kajian empiris dan perspektif
sejarah dengan menggunakan metode analisis deskriptif, maka dapat dilihat bahwa
bahasa Indonesia semakin berkembang seiring dengan semangat nasionalisme di
Indonesia.
PENGARUH PENDIDIKAN SEJARAH TERHADAP SIKAP NASIONALISME (Penelitian pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah UHAMKA)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin menurunnya sikap nasionalisme
dikalangan mahasiswa. Pada saat ini nasionalisme seakan-akan tenggelam, kini
nasionalisme menghadapi tantangan besar dari pusaran peradaban baru bernama
globalisasi. Nasionalisme sebagai kemampuan dasar (basic drive) serta daya juang
(elan vital) dari sebuah bangsa bernama Indonesia sedang diuji fleksibilitasnya
dalam arti kemampuan untuk berubah sehingga selalu akurat dalam menjawab
tantangan jaman. Fleksibilitas tidaklah mengurangi jiwa nasionalisme, justu
sebaliknya menunjukkan begitu dalamnya nasionalisme mengakar sehingga dalam
waktu bersamaan tetap hidup dan terus-menerus bermetamorfosis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara nyata tentang pengaruh
pendidikan sejarah terhadap sikap nasionalisme pada mahasiswa program studi
pendidikan sejarah FKIP UHAMKA Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kuantitatif serta dianalisis juga dengan kualitatif.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pendidikan sejarah mempunyai
berpengaruh terhadap sikap nasionalisme dengan hasil harga koefisien R sebesar
0.720 dengan taraf signifikansi 0.000< 0.05, sehingga memperoleh kesimpulan
bahwa pengujian menolak H
0
dan menerima H
1
, yang berarti terdapat pengaruh
yang signifikan dan positif dari variabel independen pendidikan sejarah terhadap
sikap nasionalisme mahasiswa. Hal ini berarti 72% variasi pada sikap
nasionalisme dapat dijelaskan dan dipengaruhi oleh variabel pendidikan sejarah,
sedangkan sisanya sebesar 18% dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak
dijelaskan dalam faktor ini. Hal ini menunjukkan besarnya peran pendidikan
sejarah terhadap pembentukkan sikap nasionalisme di kalangan mahasiswa.
Implikasi hasil penelitian mengisyaratkan bahwa sikap nasionalisme
mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang apabila pendidikan sejarah yang
diberikan kepada mahasiswa dapat menarik dan tidak membosankan. Peran
penting dosen sebagai pemegang kebijakan dalam menentukan pembelajaran di
kelas tidak dapat diabaikan, karena itu dosen mutlak memiliki wawasan yang luas
dan mengetahui berbagai metode dalam pendidikan sejarah sehingga dapat
meningkatkan aktifitas dan kreatifitas mahasiswa dalam mengatasi kesulitankesulitan
mahasiswa
dalam
pembelajaran
sejarah.
PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PERMAINAN TRADISIONAL BETAWI
Pembelajaran materi Sejarah merupakan cabang disiplin ilmu sosial dimana Sejarah
memberikan wawasan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Metode
pembelajaran yang digunakan pada saat masih kurang variasi dan masih didominasi oleh
guru. Tujuan pembuatan tulisan ini mencoba untuk mengkolaborasikan permainan tradisional
yang ada di daerah Betawi dalam pembelajaran IPS di pendidikan dasar dimana dalam
permainan tradisional memuat kearifan-kearifan lokal yang dapat dijadikan salah satu cara
untuk membentuk karakter dan membantu peserta didik dalam memahami materi yang
diterima. Diharapkan melalui permainan tradisional, peserta didik dapat mengembangkan
kecerdasan intelektual, emosional dan mampu mengembangkan kreatifitas sehingga
pembelajaran IPS khususnya materi Sejarah dapat lebih bermakna.
Exploring Indonesian EFL Students’ Reading Strategies for Economics Texts
The present study aims to explore the types of Indonesian EFL students’ strategies to comprehend the economics texts. To identify the types of strategies, retrospections and reading comprehension tests were adopted and analyzed. The results revealed that most students with a low level of English proficiency remained more dependent on the bottom-up strategies than top-down strategies. However, using the bottom-up strategies had facilitated the students comprehend the economics texts. Thus, in spite of its limitation, the study has some implications to ESAP reading in EFL classrooms.
Single-Correct Answer (SCA) and Multiple-Correct Answer (MCA) in Multiple-Choice Computer Assisted Language Testing (CALT) Program
This paper describes the use of single-correct answer (SCA) and multiple-correct answer (MCA) in assessing secondary school students’ grammar proficiency in Indonesia. There were 154 students from year 11aged 15 year old that participated in the study. From the total 154 students; 98 students participated in the SCA test session, 103 students complete the MCA test, and 84 students filled in the survey. In addition, 52 students were recorded to attend the three sessions from the study: SCA, MCA and survey. Result of the study has shown that the design of SCA and MCA in multiple-choice the computer assisted language testing (CALT) program corresponds the main principle of language testing similar to the paper-based testing format. Although the design of both SCA and MCA tests fulfilled the requirement of CALL environment such as interactivity, flexibility, content appropriateness as well as performance; as the nature of test the application of SCA and MCA test in delivering the grammar test was believed to suggest stressful environment. The authenticity setting of both SCA and MCA test which was proposed to promote the originality of students’ work was identified to drive uncomfortable testing situation. Within comparison between the SCA and MCA tests, result of the study has shown that students preferred to SCA test than the MCA test. The SCA test was believed to serve practicality for the students to complete the grammar task for the sake of number of correct answer available. Although students were challenged to complete the grammar test carried within the MCA test format, students preferred not to have such testing as it created more uncomfortable testing environment for them.