LINGKUNGAN KUMUH, KEMACETAN DAN PEMBANGUNAN PEDESAAN

Fraksi Karya Pembangunan (FKP) DPRD DKI Jakarta pada sidang paripurna, Rabu 15 Maret yang lalu, menyarankan agar Jakarta dicanangkan kembali sebagai kota tertutup bagi pendatang seperti pernah dicanangkan pada tahun 1970-an. Dengan kepadatan penduduk mencapai 10.500 jiwa/km2, arus urbanisasi ke Jakarta di khawatirkan akan menimbulkan daerah kumuh baru yang lebih lanjut dapat menimbulkan berbagai kerawanan sosial

MEMBANGUN PEDESAAN MELALUI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL

Bahwa sebagian besar penduduk Indonesia bermukim di pedesaan merupakan hal yang diketahui secara umum. Dan bahwa pembangunan pedesaan menjadi sangat penting tidak perlu diperdebatkan. Juga bahwa hasil-hasil pembangunan,terutama pembangunan pertanian, telah dapat memperbaiki kehidupan petani tidak perlu disangkal. Tapi, suatu hal yang selalu menjadi pertanyaan adalah mengapa kondisi kehidupan di pedesaan selalu tertinggal dibandingkan dengan kehidupan di perkotaan, walaupun keduanya sama-sama melaksanakan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

STRATEGI PENGEMBANGAN KOTA BARU DAN KECIL

Pentingnya pengembangan kota-kota menengah dan kecil di negara berkembang ditegaskan oleh Rondineli, “agar menjadi pusat pelayan sosial dan umum, perdagangan, pasar regional, pengolahan hasil pertanian, pusat industri kecil, dukungan transportasi, dan komunikasi antara pedesaan dan perkotaan”. Byung Nak Sung mengusulkan “pengembangan kota menengah dan kecil di Korea untuk mendukung pengembangan kota besar dan metropolitan”

MENGATASI KEMACETAN LALU LINTAS DI DKI

Di Jakarta, kemacetan lalu lintas merupakan pemandangan sehari-hari. Kalau dulu hanya terjadi pada jam-jam tertentu saja, yaitu pada jam-jam pergi dan pulang kantor. Sekarang jam berapa saja dan di mana saja terjadi kemacetan lalu lintas. Apalagi kalau hari hujan. Sekadar contoh saja. Kalau kita dari Pasar Minggu, sebelum pertigaan Kalibata terus ke Pancoran sudah macet. Pada ruas jalan Cawang, Semanggi, terutama setelah Jembatan Kuningan sejumlah kendaraan merayap seperti bekicot.

HARI BEBAS TEMBAKAU TAK CUKUP DENGAN IMBAUAN

Tanggal 31 Mei 1990 telah dicanangkan sebagai “Hari Bebas Tembakau Sedunia” yang ketiga. Dalam rangka itu, masyarakat perokok di Indonesia pun di himbau untuk tidak merokok pada hari tersebut. Perbincangan bahaya asap rokok sebenarnya sudah mulai santer setelah Depkes bekerjasama dengan kantor Menetri KLH dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)menyelenggarakan seminar tentang rokok Banyak pendapatdan tulisan para pakar tentang rokok kemudian bermunculan di media massa.

MEMBENDUNG ARUS BALIK PEMUDIK : PERLU TEROBOSAN DALAM MEMBANGUN DAERAH PEDESAAN

Lebaran sebagai hari kemenangan yang perlu dirayakan bersama keluarga telah memunculkan tradisi khas Indonesia. Tradisi mudik. Entah kapan tradisi ini dimulai. Tapi yang jelas, setiap menjelang Lebaran terminal bus dan stasion kereta api diserbu pemudik. Begitu juga kira-kira seminggu setelah lebaran, Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya sibuk ” menyambut ” penduduknya yang baru saja berlebaran di kampung halamn.

TEKNOLOGI UNTUK KAUM WANITA DI PEDESAAN

Pada setiap bulan April kita terutama kaum wanita selalu memperingati hari kelahiran seorang pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini. Pada zamannya dimana kaum wanita hanya menjadi warga masyarkat kelas dua, dengan caranya sendiri beliau berjuang mengangkat harkat dan derajat kaumnya. Beliau memperjuangkan persamaan hak bagi kaum wanita untuk memperoleh kesempatan yang sejajar dengan kaum pria. Sekarang harus diakui bahwa perjuangan beliau telah menunjukan hasil. Banyak kaum wanita menduduki jabatan penting dan pekerjaan yang patut di banggakan. Mulai dari pengusaha, pejabat pemerintah seperti dirjen, menteri dan duta besar, dokter, profesor dan bahkan calon antariksawati

Exploring EFL Students’ Perceptions of Washback of Portfolios in Reading Assessment

The study aims to find out how Indonesian EFL students perceive and make use of washback of portfolio
assessment in reading academic texts. To explore washback of portfolios, 20 students from English department at
the faculty of education were interviewed. The result revealed that the students had positive perceptions because
the washback improved their reading strategy, contributed positive changes to their learning attitude, and
cultivated their learning autonomy. They also perceived portfolio assessment a ‘novel’ method in assessing their
reading and a helpful tool in learning; therefore, they made use of portfolio assessment for future teaching and
learning guidelines. In spite of the positive washback of portfolios, a further study has to be done because
teachers have some challenges, such as preparing an appropriate design and taking time into account when
applying portfolios in language assessment.

Case Study: The Use of Recast in the EYL Classroom

This paper reports the use of recast technique in correcting students’ errors in the EYL (English for Young Learners) classroom. Observation and interview methods were conducted to collect the data. While observation was implemented to find out the role of recast in teaching-learning processes, interview to ten teachers and twenty-four students was conducted in order to answer teachers and students’ perceptions of recast technique. Findings showed that teachers and students gave positive perceptions of recast. Recast can encourage students’ language awareness, motivation, and independence. The findings of this study suggest that recast technique can be used as an alternative feedback in giving correction to students’ errors. The study confirms literature showing that recast is an effective corrective feedback.

ECONOMIC DEVELOPMENT AND HAPPINESS: A CROSS-NATIONS PATH ANALYSIS

This paper analysis direct and indirect impacts of economic development indicators that consist of economic growth, human development and global competitiveness, on happiness. Cross-section data on economic growth, human development, global competitiveness and happiness were collected from 123 countries and employed to a path analysis model. The result showed that directly, in Path-1 the impact of economic growth on happiness was negative and significant. Indirectly, the impacts of economic growth on happiness varied depend on the path. In Path-7, P43-P31, the impact of economic growth on happiness through global competitiveness was positive and significant. In Path-8, P43-P32-P21, the impact of economic growth on happiness through global competitiveness and human development was negative, but statistically was not significant. Finally, in Path-9, P42-P21, the impact of economic growth on happiness through humandevelopment was negative but statistically was not significant. The implication of this finding was that economic growth no longer important factor in development, especially when development aimed to make people happy.