Anutan pembangunan Indonesia selama lebih kurang tiga dasawarsa terakhir adalah meningkatkan peranan sektor industri dalam struktur perekonomian nasional, karena diyakini bahwa industrialisasi mempunyai peran yang signifikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat (Poot, Kuyvenhoven dan Jansen, 1991). Hasilnya adalah peningkatan sumbangan sektor industri terhadap perekonomian nasional yang cukup besar, dari sekitar 20% pada dasawarsa 60-an menjadi sekitar 40% dalam dasawarsa 90-an (Hill, 1994; Basri, 1996). Pertumbuhan ekonomi per tahun selama lima tahun pertama dalam dasawarsa 90-an mencapai angka 6% per tahun, dengan pertumbuhan sektor industri mencapai 12% per tahun (Sjahrir dan Brown, 1992). Dari aspek distribusi, permasalahan utama yang perlu dipertanyakan adalah tentang siapa sebenarnya yang menerima manfaat dari pertumbuhan sektor industri ini. Dengan melakukan analisis terhadap data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia tahun 1993 (BPS, 1994), studi ini mencoba meneliti aliran manfaat pertumbuhan ekonomi dalam periode industrialisasi tersebut. Dalam studi ini akan dibandingkan antara manfaat pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berasal dari sektor industri, yang diterima masyarakat perkotaan dengan yang diterima masyarakat perdesaan. Pada masyarakat perdesaan akan dibandingkan manfaat pertumbuhan ekonomi yang diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, yakni: masyarakat pertanian dan bukan pertanian. Di dalam masyarakat pertanian akan dibandingkan manfaat yang diterima rumah tangga pertanian golongan atas, menengah, bawah dan buruh tani.
Author: 4dm1n_1ct
Peningkatan Manajemen Sistem Informasi Terintegrasi melalui Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi
Tata Kelola yang baik merupakan salah satu syarat dalam upaya mencapai Universitas yang Unggul dan Kompetitif. Kondisi lokasi KampusUHAMKA yang tersebar di lima Lokasi kampus di wilayah Jabodetabek memerlukan strategi dan manajemen tata kelola yang baik. Penggunaan Teknologi Informasi dan komunikasi adalah pilihan yang tepat untuk mengatasi kesulitan Pengelolaan Administrasi dengan kondisi lokasi kampus yang berjauhan.
Melalui Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi yang
diselenggarakan oleh Ditjen Dikti Kemdikbud, UHAMKA telah berhasil meraih Program tersebut dan telah berhasil pula mengimplementasikan program tersebut dengan salah satu program unggulannya yaitu program Interkoneksi Antar Kampus . Program ini dapat menghubungkan kelima kampus yang letaknya berjauhan melalui investasi jaringan komputer dengan menggunakan jaringan Microtic Wireless.
Keberhasilan interkoneksi ini ditunjang dengan pembangunan Software Sistem Informasi Akademik, sehingga UHAMKA telah mampu melakukan layanan Informasi AKADEMIK ON LINE yang dapat diakses dimana saja, kapan saja melalui Website UHAMKA : www.uhamka.ac.id. Keberlanjutan program ini ditunjang oleh Komitmen Pimpinan UHAMKA
untuk mendukung secara penuh, baik secara moral maupun dukungan dana melalui anggaran Universitas. Semoga Program ini akan membantu dalam mewujudkan visi UHAMKA untuk menjadi universitas yang unggul dalam kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
KEBIJAKAN TEKNOLOGI WILAYAH DI KOREA :TEKNOPOLIS GENERASI KETIGA
Teknologi memberikan kontribusi bagi pengembangan masyarakat dan perekonomian nasional melalui penemuan, pengalihan, difusi dan aplikasi pengetahuan baru. Dengan demikian, pengembangan teknologi sangat erat kaitannya dengan keunggulan daya saing yang diupayakan oleh setiap negara yang sedang menghadapi persaingan yang sangat ketat karena perubahan ekonomi global yang sangat cepat (Sung and Hyun, 1998; Porter, 1990). Dalam kaitan ini, pengembangan ekonomi yang dihela oleh teknologi merupakan inti dari kebijakan pemerintah Korea selama 40 tahun terakhir. Satu dari banyak kebijakan yang menjanjikan adalah membangun kawasan industri dan/atau taman riset yang disebut sebagai teknopolis, dimana teknopolis ini menciptakan keterkaitan yang erat antara pemerintah, universitas, lembaga riset dan perusahaan untuk melakukan inovasi teknologi dan produk baru, mengalihkan dan mengkomersialisasikan terknologi dan produk tersebut serta memberi dukungan bagi usaha kecil menengah melalui program inkubasi (ITEP, 1998).
INDEKS IKLIM TEKNOLOGI WILAYAH
Iklim pengembangan teknologi merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam proses transformasi ekonomi di suatu wilayah yang menerapkan strategi pembangunan berbasis teknologi.
Pengalaman menunjukkan bahwa pemasangan fasilitas (peralatan, hardware) produksi yang sama di dua tempat wilayah berbeda akan membuahkan hasil yang berbeda. Dalam hal ini, wilayah yang memiliki dukungan iklim teknologi yang lebih kuat, akan menerima hasil yang lebih baik untuk pemasangan fasilitas produksi yang sama dibandingkan wilayah yang memiliki dukungan iklim teknologi yang kurang kuat. Beberapa studi internasional menunjukkan bahwa umumnya negara maju memiliki iklim teknologi yang lebih baik dibandingkan negara yang sedang berkembang. Dalam konteks wilayah kiranya dapat dihipotesiskan bahwa wilayah yang maju memiliki iklim teknologi yang lebih baik dari pada wilayah yang masih terbelakang. Oleh karena itu penerapan teknologi untuk pembangunan wilayah akan lebih berhasil pada wilayah yang telah dipersiapkan lebih dahulu dukungan iklim teknologinya. Beberapa alasan kurangnya daya dukung iklim teknologi di wilayah yang masih terbelakang antara lain adalah akumulasi teknologi yang tidak signifikan, keterbatasan tenaga ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), ketidakcukupan investasi di bidang iptek, tidak efisiennya sistem pengembangan iptek, serta struktur sosial yang masih tradisional.
KONSEP DAYA SAING WILAYAH PERSPEKTIF TEKNOLOGI
Pembahasan mengenai konsep daya saing tidak bisa dilepaskan dari evolusi teori daya saing itu sendiri. Pada awalnya teori daya saing secara spesifik membahas tentang kemampuan suatu perusahaan agar tetap survive dalam apasar yang dinamis. Dari teori daya saing pada tingkat perusahaan dalam suatu negara, kemudian berkembang menjadi suatu konsep daya saing antarnegara. Dalam bagian ini selain menjelaskan tentang evolusi teori daya saing, dicontohkan pula beberapa pengukuran atau pemeringkatan daya saing dengan metodologi yang berbeda-beda dari berbagai penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia
GIRIOT REVISITED: UP-DATED AND EVALUATED
This paper reported an evaluated of a hybrid procedure in GIRIOT (Generation Inter-Regional
Input-Output Table) applied for an Island economy of Indonesia. The model was then up-dated
using Indonesian data for the year 2015. GIRlOT combines and modifies the GRIT II and GRIT
III procedures developed at The University of Queensland. At least three aspects of the new
procedure are different to GRIT; the hybrid procedure designed for a mainland economy in a
developed country. GRIT uses national technical coefficients. GIRlOT adjusts regional
technology differences since in an island country like Indonesia; regional diversity exists in its
ecology, economy and culture. GRIT uses LQ (Location Quotient) techniques. GIRIOT
estimates the intra-regional input coefficients by employing the generalised RSP (Regional
Supply Percentage) and uses column-only as well as row-only approaches. The two approaches
are then reconciled. GIRlOT also estimates the inter-regional input coefficients using the interisland
transport pattern of commodity groups for primary and secondary sectors and the pattern
of population distribution for the non-zero imports of service sectors. The GIRIOT procedure
consists of three stages, seven phases and twenty four steps. Stage I: Estimation of Regional
Technical Coefficients, consists of two phases, namely Phase 1: Derivation of National
Technical Coefficients and Phase 2: Adjustment for Regional Technology. Stage II: Estimation
of Regional Input Coefficients, consists of two phases, namely Phase 3: Estimation of Intraregional
Input Coefficients, and Phase 4: Estimation of Inter-regional Input Coefficients, and
Stage III: Derivation Transaction Tables, consists of three phases, namely Phase 5: Derivation of
Initial Transaction Tables, Phase 6: Sectoral Aggregation, and Phase 7: Derivation of Final
Transaction Tables. The results were two 5 region-9 sector models; row only table and column
only table. The validity of the two tables was tested using professional judgment as well as
sensitivity test of multipliers resulted yang the models.
PERANAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH TRANSMIGRASI
Peranan Industri Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP) Dalam Pengembangan Wilayah Transmigrasi dengan Kasus Pabrik Pandu (Pilot Plant) Ethanol di Satuan Kawasan Pemukiman Transmigrasi Tulang Bawang I, Lampung (Di bawah Bimbingan Lutfi Ibrahim NASOETION sebagai Ketua, isang GONARSYAH dan Bambang Sulistiyo UTOMO sebagai Anggota). Penelitian ini bertujuan untuk : (1) memperkirakan dampak IPHP terhadap peningkatan pendapatan wilayah, (2) mempelajari kesediaan transmigran untuk mengusahakan tanaman Ubi kayu sebagai bahan baku bagi IPHP dan (3) mempelajari kemungkinan alokasi pemanfaatan lahan yang dapat memaksimumkan pendapatan transmigran dari kegiatan usaha tani.
KETERKAITAN SEKTOR-SEKTOR PARIWISATA DALAM PEREKONOMIAN BALI: ANALISIS INPUT-OUTPUT
Employing the concept of black-box system operasionalied by input-output model, this paper analyses linkages and the role of tourism sectors in the economy of Bali. After explaining the method of analysis, an example of black box system consist of input, proses and output of tourism sectors is presented based on the input-output table of Bali. This paper then discusses linkages: direct, open and closed linkages of tourism sectors in the economy of Bali. Disaggregated output, income and import multipliers of these sectors are also provided to indicate which sectors involved. Summary and conclusion are finally provided at the end of the paper.
STRUKTUR PRODUKSI DAN POLA KONSUMSI PADA BUDIDAYA JAGUNG DAN KEDELAI: ANALISIS INPUT-OUTPUT
Employing the Indonesian input-output tables both as data sources and as method of analysis, this paper discusses production structure, consumption pattern and the role of maize and soybean in the Indonesian economy. The production structure is discussed by showing the structure of input in producing these commodities; the consumption pattern is indicated by the pattern of output distribution; while the role of these commodities in the national economy is indicated by input-output multipliers. Finally, concluding remarks are provided at the end of the paper.
THE IMPACT OF TECHNOLOGICAL PROGRESS ON INDONESIA’S GLOBAL COMPETITIVENESS: A TIME SERIES PATH ANALYSIS
This paper analysis direct and indirect impacts of technological progress on Indonesia’s global
competitiveness, with economic growth and human development as moderator variables. Time
series data on technological progress, economic growth, human development and global
competitiveness of Indonesia were collected many sources and employed in a path analysis
model. The results showed that technological progress had a negative and significant direct
impact on the global competitiveness. Technological progress had also negative and significant
direct impact on human development. Furthermore, technological progress had a positive and
significant direct impact on economic growth, and economic growth had positive impact on
human development and negative impact on global competitiveness. Indirectly, the impacts of
technological progress on global competitiveness varied depend on the path. At P43-P31, indirect
impact through human development, the impact was negative and significant. At P43-P32-P21,
indirect impact through human development and economic growth, the impact was positive and
significant. Finally, at P42-P21, indirect impact through economic growth, the impact was
negative and significant. These findings confirm other research by Author using cross-nations
data.